INTERNET ADDICTION
Adiksi internet ditandai dengan keasikan yang
berlebihan atau kurang terkontrol dalam perilaku penggunaan komputer dan akses
internet. Kondisi ini lalu menyebabkan gangguan atau penderitaan pada yang
mengalaminya.
Menurut Young (dalam Essau, 2008), kecanduan
internet memiliki pengertian yang sama dengan perilaku kecanduan yang lainnya,
dimana didalamnya melibatkan perilaku yang kompulsif, kurangnya ketertarikan
pada aktivitas lain, berhubungan dengan ketergantungan yang lain, dan adanya
symptom fisik dan mental yang muncul ketika perilaku tersebut berusaha
dihentikan. Individu yang dinyatakan telah kecanduan terhadap internet adalah
individu yang menghabiskan banyak waktunya dalam fungsi interaktif internet dan
juga terlibat dalam berbagai forum yang tersedia dalam internet.
Kemudahan yang ditawarkan dalam internet membuat
banyak pengguna internet mengalami adiksi atau kecanduan pada internet. Berbagai
kalangan dapat menggunakan dan mengakses internet. Seperti yang dikatakan
sebelumnya, internet merupakan ruang tanpa batas. Internet tidak mengenal usia,
kelas sosial atau pun pendidikan. Internet dapat digunakan oleh siapa saja.
Dengan semakin berkembangnya teknologi, setiap tahun jumlah pengguna internet
semakin meningkat. Menurut data yang dirilis oleh APJII (Asosiasi Penyelenggara
Jasa Internet Indonesia), jumlah pengguna internet di Indonesia pada tahun 2014
adalah sebesar 88,1 juta. Angka tersebut naik dari 71,2 juta di tahun
sebelumnya (www.tekno.kompas.com). Di antara jumlah tersebut, menurut Kominfo
dan UNICEF (2014) sekitar 30 juta di antaranya adalah anak-anak dan remaja
(www.kominfo.go.id). Dari jumlah tersebut dapat dilihat bahwa tidak sedikit
pengguna internet dari kalangan anak-anak dan remaja.
Ciri-ciri kecanduan
internet :
- Keasyikan
dengan internet dengan tujuan tertentu yang orang lain tidak boleh tahu.
- Bersikap
melawan untuk berlama-lama online. Mereka akan marah jika
waktu online-nya dibatasi.
- Mulai
memakai uang jajan atau uang untuk kebutuhan penting lain demi bisa online atau
membeli gadget baru.
- Gagal
mengontrol perilaku, termasuk perilaku agresif.
- Mengalami euphoria setiap
kali terlibat pada segala yang menyangkut komputer atau aktivitas
internet.
- Tak
bisa mengatur waktu
- Mengorbankan
waktu tidur demi bisa online.
- Marah
saat koneksi internet terputus.
- Memeriksa
email atau pesan online secara kompulsif sepanjang hari.
- Tetap
berusaha online walau sedang waktunya sekolah atau
belajar.
- Lebih
senang menghabiskan waktu online ketimbang bersama teman
atau keluarga.
- Tidak
tertarik melakukan aktivitas menarik di dunia nyata, lebih senang di depan
komputer
Dengan bahaya yang mengancam para pecandu internet,
maka penting untuk melakukan antisipasi, terutama terhadap anak-anak dan
remaja. Antisipasi dapat dilakukan dengan disiplin dalam
menggunakan gadget dan membatasi waktu penggunaannya. Dalam
hal ini perlu adanya pengawasan dari orangtua. Selain itu, perlu adanya
penerangan mengenai dampak-dampak yang dapat terjadi apabila kecanduan
internet, sehingga anak-anak dan remaja dapat lebih sadar dengan aktivitas yang
dilakukan dalam internet. Alternatif lainnya adalah mengalihkan perhatian
kepada aktivitas atau kegiatan yang berada di outdoor, seperti
sepak bola, menari, menggambar.
Sumber :
Essau, Cecilia A. (2008). Adolescent
Addiction:Epidemiology, Assessment and Treatment. New York : Elsevier Inc
Komentar
Posting Komentar